Showing posts with label dakwah. Show all posts
Showing posts with label dakwah. Show all posts

Wednesday, June 6, 2012

Sulit, mudah, ridha-Nya

By Salim A. Fillah (Dalam Dekapan Ukhuwah)

satu waktu, sudah lama sekali seseorang berkata dengan wajah sendu
"alangkah beratnya... alangkah banyak rintangan...alangkah berbilang sandungan... alangkah rumitnya."

aku bertanya, "lalu?"
dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk "apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?"

"hanya karena itu kau menyerah kawan?" aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti yang dialaminya
"yah... bagaimana lagi? tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa Allah tak meridhainya?

aku membersamainya menghela nafas panjang lalu bertanya, "andai Muhammad, shallallahu 'Alaihi wa Sallam berpikir sebagaimana engkau menalar, kan adakah Islam di muka bumi?"
"maksudmu akhi?", ia terbelalak

"ya. andai Muhammad berpikir bahwa banyak kesulitan berarti tak diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal awal risalah?"

ada banyak titik sepertimu saat ini, saat Muhammad bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar
mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat di bagian leher
mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta
mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu
mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun dan tukang sihir
mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi'b Abi Thalib
mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata
atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang
atau justru saat dunia ditawarkan padanya; tahta, harta, wanita..."

"jika Muhammad berpikir sebagaimana engkau menalar tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?

tapi Muhammad tahu, kawan
ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya
berat atau ringannya, bahagia atau deritanya
sanyum atau lukanya, tawa atau tangisnya"

"ridha Allah terletak pada apakah kita menaatiNya dalam menghadapi semua itu
apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan laranganNya dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan"

"maka selama di situ engkau berjalan bersemangatlah kawan..."

dari sebuah blog disampaikan seorang sahabat perjuangan.
Saat kau merasa lelah berjalan, kadang uluran tangan seorang sahabat membuatmu jauh lebih kuat. Kuatkan ya Allah ikatan ini dalam mencapai Ridha-Mu, aamiin....

Wednesday, May 16, 2012

Inilah Aku, Dan kamu. Kamu sendiri siapa??

"Akulah petualang yang mencari kebenaran, Akulah manusia yang mencari makna dan hakekat kemanusiaannya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif.

Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasisa wujudnya, maka Ia pun berseru, 'Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, tuhan semesta Alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'

Inilah Aku. Dan kamu, Kamu sendiri siapa???"
-----------------------------------------------------------------------
Diambil dari buku Majmu'ah Rasail (Kumpulan surat-surat) karangan Hasan Al Banna.

Wednesday, May 9, 2012

Hikmah hari ini

"Amal adalah sebuah konsekuensi yang wajar dari iman, sebagaimana bunga yang tak kuasa untuk menahan bau harumnya yang menyebar" (Sayyid Qutb)

Iman adalah mata yang terbuka
Mendahului datangnya cahaya
Tapi jika terlalu silau, pejamkan saja
Lalu rasakan hangatnya keajaiban
Iman kita agaknya bukan bongkah batu karang yang tegak kokoh
DIa hidup bagai cabang menjulang dan dedaun rimbun
Selalu tumbuh dan menuntut akarnya menggali kian dalam
Juga merindukan cahaya mentari, embun dan udara pagi
Persaudaraan adalah mu'jizat, wadah yang saling berikatan
Dengannya Allah persatukan hati-hati berserakan
Saling bersaudara, saling merendah, saling memahami
Saling mencinta dan saling berlembut hati
-Sayyid Qutbh-

Thursday, April 5, 2012

10 Tanda degradasi ruhiyah

Anda seorang aktifis dakwah? Waspadailah jika salah satu dari sepuluh hal berikut menimpa Anda, karena ia mengindikasikan terjadinya degradasi ruhiyah.


1. Dusta
Rasulullah pernah mengingatkan bahwa seorang mukmin tak mungkin menjadi pembohong. Jika aktifis dakwah mulai berani berbohong, saat itulah indikasi degradasi ruhiyah terjadi.


Kadang kebohongan terjadi pada saat seseorang terjepit atau ingin mengais keuntungan tertentu. Misalnya untuk mendapatkan “pembenaran” atas ketidaksertaannya dalam aktifitas dakwah yang berat, yang sebenarnya ia tak memiliki alasan untuk meninggalkannya kecuali sikap malas. Di zaman Rasulullah, ini pernah terjadi pada perang Tabuk. Di mana kaum munafikin yang tidak ikut berangkat perang membohongi Rasulullah dengan berbagai alasan saat beliau kembali di Madinah; agar keabsenannya dimaklumi dan dimaafkan.


Kebohongan juga bisa terjadi pada saat munculnya momentum yang memberikan peluang keuntungan besar melalui kebohongan. Yang jika ia jujur, menurut pertimbangannya, peluang itu akan lewat begitu saja. Ingatlah, bahwa tujuan yang baik harus dicapai dengan cara yang baik.


2. Tak memenuhi janji
Berhati-hatilah jika Anda tidak memenuhi janji untuk menjalankan kewajiban dakwah yang telah Anda sepakati. Atau Anda mulai “toleran” dengan keterlambatan menghadiri forum-forum dakwah pekanan dan sebagainya. Kita patut waspada bahwa itu merupakan ingkar janji yang termasuk tanda-tanda kemunafikan, di mana saat itu terjadi degradasi ruhiyah dan keimanan.


“Ada tiga tanda kemunafikan,” sabda Rasulullah dalam riwayat Al Bukhari, “yaitu bila bicara ia dusta, bila berjanji ia ingkar, dan bila diberi amanah ia berkhianat.”


3. Mengkhianati amanah
Tiga hal pertama, termasuk mengkhianati amanah ini juga merupakan tanda kemunafikan seperti disebutkan dalam terjemah hadits di atas. Sekecil apapun amanah yang diembankan kepada Anda, termasuk amanah kepanitiaan, amanah di wajihah, amanah di struktur dakwah; pada saat Anda menyia-nyiakannya, tidak mau menunaikannya, itu merupakan indikasi degradasi ruhiyah. Perlu sebuah introspeksi mengapa kita tak mau menunaikan amanah yang sudah kita terima; apakah kita menerima amanah karena Allah, atau karena mengincar tujuan duniawi? Jika karena Allah, bangkitlah! Jangan biarkan degradasi ruhiyah berkelanjutan dan menggerogoti keimanan.


4. Takut berjuang dan berdakwah
Ini juga tanda degradasi ruhiyah. Jika Anda tak lagi berani bergerak, berharakah, berjuang mendakwahkan Islam; ketahuilah bahwa saat itu sedang terjadi degradasi ruhiyah. Kembalilah kepada keyakinan yang benar bahwa rezeki ditentukan Allah dan masa depan dalam genggaman Allah.


Mengapa takut lingkungan membenci Anda jika Anda sedang bergerak meraih ridha Allah dan cinta-Nya? Perusahaan mungkin bisa memecat Anda karena aktif berdakwah, tetapi ia takkan melakukannya selama Anda tetap profesional dalam bekerja. Lebih dari itu, tak seorang pun bisa menghalangi Anda dari rezeki yang lebih besar yang sudah Allah siapkan.


“Barangsiapa yang tidak berjihad dan tidak meniatkan dalam hatinya untuk melakukannya, ia membawa satu cabang kemunafikan pada kematiannya.” (HR. Muslim)


5. Su’udhan (Buruk Sangka)
Di saat Anda berprasangka buruk terhadap sesama aktifis dakwah yang berubah menjadi kaya, khawatirlah bahwa degradasi ruhiyah sedang melanda. Aktifis dakwah yang menjadi kaya setelah mendapatkan jabatan publik memang menimbulkan godaan untuk berburuk sangka. Tapi itulah cara syetan menyerang, padahal kita tak pernah tahu bahwa pada saat yang sama usaha atau bisnis aktifis dakwah itu berhasil setelah bertahun-tahun sebelumnya ia rintis dan ia kembangkan.


Kadang buruk sangka juga menjadikan qiyadah dakwah sebagai sasarannya. Bahkan pada kisah haditsul ifki kita bisa mengambil ibrah betapa pemimpin terbaik seperti Rasulullah pun, keluarganya pernah menjadi sasaran buruk sangka sebagian orang.


“Hindarilah oleh kalian prasangka,” sabda Rasulullah dalam riwayat Muslim, “karena itu seburuk-buruknya perkataan.”


6. Ghibah
Tanda degradasi ruhiyah berikutnya adalah ghibah. Yakni ketika seorang aktifis dakwah membincangkan hal-hal yang tak disukai seadainya didengar oleh orang yang dibincangkan. Ghibah juga menjadi tanda memudarnya ukhuwah sehingga ketika ada kelemahan, kekurangan atau kesalahan aktifis dakwah, yang bersangkutan tidak diingatkan dan dikoreksi, malah aibnya disebarkan.


“Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al Hujurat : 12)


7. Hasad (dengki)
Hasad kepada sesama aktifis dakwah umumnya sulit ditemui pada fase awal atau perintisan dakwah. Di masa-masa sulit seperti itu, ketika semua aktifis dakwah berjuang “mati-matian” dalam kesulitan, hasad adalah penyakit hati yang sangat langka.


Namun, seiring dengan kemajuan dakwah, terbukanya kesempatan, dan teraksesnya kekuasaan, hasad bisa menjadi ancaman. Nah, aktifis dakwah yang tidak suka dengan kemajuan saudaranya, kesuksesannya, jabatannya, kekuasaannya, lalu berupaya menghilangkan nikmat itu; itulah hasad yang menjadi tanda degradasi ruhiyah. Bahkan saat ketidaksukaan muncul saja, hanya karena alasan dunia –mengapa dia dan bukan saya- itu saja sudah sangat mengkhawatirkan bahwa keruntuhan ruhiyah kita sedang berjalan.


8. Sering lalai dan mencari-cari alasan
Lalai terhadap komitmen amal ibadah yaumiyahnya, lalai terhadap amanahnya, lalai syura dakwahnya, lalai agenda pekanannya, lalu berupaya mencari alasan pembenar agar bisa disebut udzur adalah bagian dari tanda degradasi ruhiyah. Demikian pula saat aktifis dakwah mencari-cari celah atau menabrak hal-hal makruh dan syubhat sehingga akhirnya terjerembab dalam dosa dan pelanggaran.


“Seorang hamba takkan mencapai derajat ketaqwaan, sehingga ia meninggalkan perkara mubah baginya karena khawatir terjerumus masalah yang mengandung dosa.” (HR. Tirmidzi)


9. Suka popularitas, tak semangat dalam amal rahasia
Di saat mihwar dakwah telah sampai pada mihwar muasasi, gerbang amal amah terbuka gegap gempita. Banyak peluang popularitas di sana, banyak kemasyhuran menanti pelakunya. Jika pada saat seperti ini agenda dakwah khas dinomorduakan, tak ada gairah dan semangat menempuhnya, ketahuilah bahwa itu bagian dari riya’ yang menunjukkan degradasi ruhiyah kita.


10. Menjauhi syura
Jika Anda tak lagi menyukai syura, ingin menghasilkan keputusan dakwah sendiri, ingin mengambil kebijakan sendiri, sangat boleh jadi saat itu ruhiyah sedang melemah. Sebab ia hanya bermuara pada dua hal; pertama, menganggap orang lain dan jamaah dakwah tidak lebih baik dan lebih pintar dari Anda. Artinya ujub dan takabur tengah menjangkiti. Kedua, timbul keinginan untuk “berkuasa” diantaranya dengan bebas menentukan segalanya, termasuk menentukan arah dakwah demi kepentingan pribadi.


Syura adalah prinsip dalam amal jamai dan harus selalu ditegakkan dalam semua marhalah yang dilalui. “..sedang urusan mereka (diputuskan) dengan syura diantara mereka...” (QS. Asy Syura : 38). [AM09]

Sumber http://www.bersamadakwah.com/2012/03/10-tanda-degradasi-ruhiyah-aktifis.html

Tuesday, March 27, 2012

Adakah cinta tanpa pengorbanan?

Diambil dari sini yang judulnya Antara Saham Dakwah, Mahar Terhutang, dan Gaji Suami

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai. (Syaikhut Tarbiyah KH. Rahmat Abdullah)

Ada satu pelajaran berharga untuk setiap ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang terjadi di masa Syaikh Abdul Qadir al Jilani. Sebagaimana telah masyhur diketahui, beliau adalah salah seorang ulama kharismatik ahli thariqah sunniyah yang terkenal dengan karamahnya. Sampai-sampai Syaikh Izzuddin bin Abdissalam, ulama besar madzhab Syafi’i, mengatakan: “Tidak pernah kita mendengar karamah seseorang secara mutawatir kecuali karamah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.”

Begini kisahnya. Sepeninggal gurunya, Syaikh Abdul Qadir berniat memperluas dan membangun ulang madrasah peninggalan sang guru. Maka umat pun menyambut antusias keinginan beliau sehingga orang-orang kaya lantas menyumbangkan hartanya untuk pembangunan madrasah. Orang-orang faqir juga tak ingin kehilangan kesempatan beramal dengan mencurahkan tenaganya. Para pengikut syaikh Abdul Qadir benar-benar menunjukan pengorbanan dalam perjuangan dakwah sang syaikh.

Satu diantara pengikut Syaikh Abdul Qadir adalah seorang wanita faqir, isteri dari seorang faqir pula. Tak ada lagi yang dapat ia sumbangkan untuk pembangunan madrasah karena kefaqirannya. Bahkan saat itu maharnya pun masih terhutang, belum dibayar oleh suaminya. Tapi tunggu dulu, ini adalah kesempatan langka. Semua tak boleh ketinggalan untuk ikut andil dan menanam saham dakwah dalam amal jariyah madrasah Syaikh Abdul Qadir.

Datanglah ia bersama sang suami ke hadapan sang Syaikh, sambil berujar: “Ini adalah suamiku. Aku memiliki piutang mahar padanya sebesar dua puluh dinar emas. Sungguh aku telah merelakan separuhnya kuberikan untuk suamiku, namun dengan syarat dia bekerja di madrasah anda dengan separuh sisanya piutang mahar itu sebagai gajinya”

Subhanallah. Allahu Akbar.

Maka Syaikh Abdul Qadir pun menerima perjanjian antara suami-isteri itu. Beliau pun mempekerjakan sang suami di madrasahnya. Syaikh Abdul Qadir tahu persis bahwa laki-laki itu faqir tak berpunya. Atas dasar itulah diam-diam beliau mempekerjakan laki-laki faqir itu sehari tanpa gaji, dan sehari lain dengan gaji. Sehari tanpa gaji sebagai bentuk penerimaan beliau atas sumbangsih sang isteri. Sehari lain dengan gaji disebabkan kefaqiran mereka berdua. Begitu selang-seling. Suatu saat, setelah laki-laki itu menyelesaikan masa kerja seukuran gaji sepuluh dinar, Syaikh Abdul Qadir berbicara padanya. Sambil mengeluarkan perjanjian beliau memberinya lima dinar dan mengatakan: “Engkau telah lunas dengan sisa maharmu.”

Alhamdulillah.

Ikhwah Fillah, begitulah cinta. Sekarang, sudah adakah andil kita dalam dakwah? Sudahkah kita berperan? Siapa yang harus bertanggung jawab dengan pendidikan agama remaja dan anak-anak masjid di sekitar kita? Kalau bukan kita, lantas siapa?

Adakah cinta tanpa pengorbanan?


Riza Zakariya

Kisah di atas disarikan dari buku:
Hakadza Dhahara Jailu Shalahuddin Wa hakadza ‘Adat Al Quds, DR. Majid ‘Arsan al Kailani, Darul Qalam, Dubai UAE, Cetakan ketiga, 2002, hal 186. versi ebook

Setiap cinta butuh pengorbanan. Bukan hanya harta, tapi banyak bentuk pengorbanan karena cinta. Hmm...sanggupkah aku???