Showing posts with label life story. Show all posts
Showing posts with label life story. Show all posts

Monday, February 2, 2015

Cerita tentang jilbab

Kali ini cerita tentang koleksi jilbab jadul.
Jujur dari menikah sampai sekarang sudah 6 tahun pernikahan kami, baru sekali beli jilbab sendiri. Itu pun alasannya karena mencari jilbab yang sesuai dengan warna baju untuk acara nikahan beberapa bulan yang lalu. Alasannya simpel, jilbab lama masih banyak dan juga masih bagus2. Dan juga gak terlalu mengikuti perkembangan jilbab saat ini. Sejak sebelum menikah sampai sekarang, suka banget pake jilbab segiempat. Yang bahannya tebal, gak transparan. Kalau punya yang transparanpun pasti akan didobel pakenya. Yang jilbab tipis model sekarang itupun sebagian besar adalah hadiah, dikasih ibu, dikasih mbak, pokoknya banyaknya pemberian.

Gak pernah nyoba jilbab mode sekarang??? Pernah, cuma gak sampe keluar rumah. Karena kalo pake jilbab yang rada aneh atau modelnya sedikit beda, pasti akan dikomentari suami. Makanya sampai sekarang masih tetep bertahan dengan jilbab yang ada. Kadang suka dikomentari kok jilbabnya itu2 aja sih, emang gak bisa beli??? Selain suka yang simpel dan gak aneh2, alasan utama juga kan suami. Makanya walau mungkin kadang dikasih jilbab baru, lebih suka pake jilbab lama. Karena kita pake juga kan demi kenyamanan kita sendiri bukan karena orang lain. Penah suatu hari ikutin pake jilbab ala osd, tau kan artis cantik yang berjilbab rapi. Komentar suami `aneh`. Sejak saat itu gak mau eksperimen dengan jilbab lagi. Kecuali ada keadaan yang memaksa harus pakai jilbab `gak wajar`

Bukan juga karena suami pelit gak mau beliin terus pake jilbab itu2 aja. Kalo mau beli yang baru juga mah beli aja kata suami. Karena sekarang mungkin ada bahan2 jilbab yang mungkin lebih baik. Tapi kalo mau nyari jilbab model jadul dulu masih ada gak ya? Tapi yang pasti mempertahankan style kita sebelum dan sesudah menikah emang gak gampang. Untungnya suami sehati untuk tidak meminta pake jilbab yang aneh2. Untungnya saya juga males pake sesuatu yang ribet dan rada nyentrik. Jadinya ya beginilah jilbab model saya dari jaman dulu sebelum nikah sampai sekarang. Contohnya pake jilbabnya seperti gambar di bawah ini (berasa kuliah apa aja).


Ya ini bukan tentang mode jilbab. Tapi kesukaan dan juga memakai jilbab itu beda dengan menghias kepala. Karena sesungguhnya berhijab itu adalah satu perintah Allah bagi kaum wanita. Berani beda, siapa takut???

Wednesday, September 17, 2014

Merindukan transportasi umum yang nyaman

Sudah beberapa minggu ini sejak semester baru dimulai, bunda dan Rayhan punya hobi baru naik bis. Karena tempat penitipan masih di seputaran UGM, bunda menawarkan Rayhan untuk naik bis saat akan menjemput adiknya sambil menunggu ayah yang kadang ada jadwal ngajar sore. Ternyata hobi baru itu keterusan sehingga Rayhan sangat menikmati naik bis. Pernah suatu hari dijemput dengan mobil, eh Rayhan nangis minta naik bis saja.

Sebenernya sangat menyenangkan naik bis, hanya jumlah bisa yang terbatas dan waktu tunggu yang cukup lama jadi merasa kadang kurang efisien. Tapi karena Rayhan sangat menyukai dan juga bisa menjadi ajang ngedatenya bunda dan Rayhan, kami harus menyediakan waktu dan juga dana naik bis setiap harinya.

Angan melayang ketika beberapa tahun yang lalu sempat mencicipi hidup di Davis, California dan Nara, Jepang. Dua kota ini menyeuguhkan transportasi umum yang cukup nyaman. Ketika berada di Davis, dengan adanya bus yang terbatas, tetapi track untuk sepeda cukup nyaman tersedia. Sehingga jika tidak bisa menggunakan bis, sepeda bisa dengan nyaman digunakan di jalan raya, tanpa takut diserobot. Yang penting hindari highway saja karena itu cukup berbahaya. Bisa dibilang luas UC Davis itu hampir sama dengan UGM atau mungkin jauh lebih luas ya. Tapi area hijau dan lingkungannya sangat nyaman untuk bersepeda. Orang-orang lebih menyukai menggunakan sepeda dibandingkan kendaraan pribadi bermotor. Sehingga suasana macet dan polusi mungkin tidak terasa.
Kalaupun ada bis, itupun bisa kampus yang bisa digunakan gratis untuk pindah antar fakultas. Dengan jadwal bis yang teratur jam2nya. Sehingga bisa dengan mudah diperkirakan waktu tempuhnya.

Tidak berbeda dengan Davis, ketika di NAIST pun transportasi umum menjadi andalan bagi kami yang tidak punya mobil. Selain tarif parkir yang mahal, untuk memperoleh SIM di Jepang itu juga tidak mudah. Teringat suami yang harus mengambil 5 kali ujian SIM. Sangat2 ketat aturan yang diterapkan. Tapi walaupun tanpa mobil sebenarnya sangat nyaman menggunakan bis atau kereta di Jepang. Jika kita mau ke suatu tempat, jika sudah tahu jadwal jam bisnya, maka perkiraan waktu tempuh perjalanan bisa diprediksi. Mungkin karena itu orang Jepang dianggap sangat tepat waktu. Karena jadwal bisnya gak akan meleset satu menit pun. Jadi kalo molor dari jadwal bis ya tinggal dada dada aja sama bisnya, gak bakal mau nunggu.
Nyamannya berkereta di Jepang
Keretanya lagi sepi

Kembali ke transportasi di Jogja, membandingkan dengan 10 tahun lalu saat masih jadi mahasiswa, bis menjadi andalan untuk kemana2. Ketika kembali dari kuliah setahun yang lalu sempat shock culture, melihat begitu banyaknya kendaraan bersiliweran di jalanan jogja terutama UGM. Antara miris dan sedih juga, ini menunjukkan tingkat perekonomian yang semakin baik atau bagaimana. Bisa dilihat sekarang mungkin lebih dari 50% mahasiswa menggunakan kendaraan bermotor.

Sebagai ibu dari dua orang anak yang tidak bisa nyetir dan mengandalkan suami dan juga transportasi umum. Ada sedikit do`a dan harapan semoga ada kebijakan dari pemerintah Jogja umumnya dan pemerintah sleman khususnya untuk bisa melihat dan mengambil kebijakan terkait ini. Jujur saya memimpikan transportasi seperti di Jepang yang bener2 transportasi umum itu jadi andalan. Jadi saya mungkin tidak perlu belajar nyetir ketika harus mengantarkan anak2. Karena dengan memakai bis bisa juga menjadi tempat `wisata` bagi anak2.
Mimpi kan boleh aja ya, karena saya mencintai kota ini walaupun saya tidak dilahirkan disini. Dan berharap Jogja tidak berubah menjadi ibukota yang penuh dengan keruwetan dan kemacetan.

Wednesday, July 16, 2014

Mensyukuri segala nikmat dari Allah

Pernah gak kita berpikir kalo hidup orang lain tuh jauh lebih baik dari yang kita jalani. Bukan hanya dari segi materi, tapi mungkin secara tidak sadar kadang kita berpikir `beruntung ya dia...`, `enak ya dia..`, dll. Ada satu kata yang terbesit dengan sikap menerima dan mensyukuri apa yang kita punya yaitu qana`ah. Sikap qana’ah didefinisikan sebagai sikap merasa cukup, ridha atau puas atas karunia dan rezeki yang diberikan Allah SWT.  Qana’ah ialah kepuasan hati dengan rezeki yang ditentukan Allah.

Merasa cukup itu tidak berarti harus banyak ya. Mungkin saja cuma sedikit, tetapi dia merasa cukup dengan sedikitnya. Karena kadang kita itu selalu dilanda rasa was was, merasa kurang dan rasa2 gelisah yang lain. Sebelum menikah, saya termasuk orang yang alhamdulillah selalu tenang kalo ada uang di dompet. Berasa aman aja gitu. Setelah menikah, kayaknya semua harus direm. Termasuk rasa ingin belanja he he...Karena suami termasuk orang yang berpikir panjang kalo mau belanja2. Kalo saya sih kalo ada uang beli aja. Suami mengajarkan kalo belanja tuh apa perlunya. Untuk besok ya dipikir besok. Pokoknya uang di dompet ya untuk keperluan yang seperlunya. Bukan pelit menurut saya, tapi perhitungan hi hi.

Karena kan gaji masuk rekening, selain itu ada honor2 di luar gaji rekening. Prinsipnya suami kalo dompet mulai kosong berarti akan ada rezeki yang lain. Kalo emang dah mepet gak ada, ya ambil ATM he he. Nah, disinilah saya mulai memahami apa itu qana`ah yang sesungguhnya. Awal2 saya sempat protes sama suami karena konsep itu. Tapi lama2 saya mengerti, bahwa rasa tenang itu datang ketika kita bisa menerima dan bersyukur atas rezeki apapun yang Allah beri. Rezeki itu bisa jadi rasa aman, anak2 yang sehat, tenang dalam beribadah dan lain2.

The last but not the end, sebagai istri kita tuh harus bisa menerima apapun yang suami kasih. Dikit ya alhamdulillah, banyak juga alhamdulillah. Sikap qana`ah akan memberikan ketenangan pada kita dan membuat rasa2 galau sirna dalam hati. Cukup dengan apa yang sudah Allah beri, bersyukur karena banyak orang yang mungkin tidak seberuntung kita. Jangan lupa memberi pada yang membutuhkan.