Wednesday, April 11, 2012

Bento #6 Ayam goreng tulang lunak

Menu bento hari selasa, ayam goreng tulang lunak dan tumis sawi putih. Testimoni Sendy kurang berasa bumbu ayamnya. He he...berarti kudu eksperimen untuk mendapatkan hasil yang pas buat lidah konsumen. Halah....


Tapi resep kremesannya udah pas dikitlah, here they are:

100 gr tepung beras
4 sdt tepung kanji/katakuriko
2 sdt maizena
500 ml santan encer
garam dan lada secukupnya
Bumbu:
kemiri dan bawang putih masing2 4 biji

Aduk semuanya (kutambahin 1 sdm tepung beras lagi). dan saat goreng ayam dicelupkan ke adonan kremes ini. Hasilnya crispy kremesannya. Kuncinya adalah minyak banyak dan jangan diaduk sampai adonan mengumpul. Baru kremesannya jadi. Sempat digantikan ayah gorengnya karena Rayhan nangis dan hasilnya oke. Ayah hebat bisa goreng kremesannya.

Thursday, April 5, 2012

3 Tahun Bersamanya

Setiap manusia pasti pernah merasa lelah. Menjadi seorang ibu pun pasti merasakan rasa lelah. Ketika kita mencoba untuk menjadi wanita kuat dengan segala beban yang ada. Ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah dan juga mengurus anak dalam waktu yang sama. Pasti kadang rasa lelah itu muncul. Pasti, bukan tidak mungkin kadang ingin lari dari itu semua. Tapi apa kemudian melepaskan tanggung jawab itu menjadi jawaban. Apa dengan lari kemudian pekerjaan itu akan selesai? Ga kan....

Saat menjadi seorang istripun begitu. Kita berusaha belajar saling memahami karakter pasangan kita. Mungkin ada yang kurang pas, ada yang buat kita kecewa. Apa kemudian dengan kekecewaan yang berlarut2 membuat kita bahagia? Ketika kita melihat kekurangan dari diri pasangan kita, apa kita harus menyesali diri. Padahal disitu ladang amal kita sebagai seorang istri. Jangan melihat kekurangannya dan lihat saja kelebihannya. Dengan begitu kita bisa ikhlas menjalani kehidupan sebagai seorang istri. Ketika begitu banyak pekerjaan rumah tangga yang harus diselesaikan, rasa lelah itu kadang datang dan pergi.

Hari ini kusadari saat membereskan pakaian ayah dan Rayhan. Kuamati satu baju ayah. Lusuh, kusam, hampir robek dibagian lengan dan tangannya. Aku ingat sekali ayah sering memakai baju itu. Baju yang sama setiap minggunya. Mungkin hampir robek2 karena saking seringnya CKP alias cuci kering pake. Mungkin selama ini tertutupi oleh jaket saat musim dingin atau kemeja saat musim panas. Bukannya ayah tak punya baju lain, banyak. Hanya saja entah kenapa ayah selalu memilih baju yang sama. Alasan ayah pake apa yang terlihat.

Ayah memang tidak pernah meminta bunda menyiapkan bajunya tiap hari. Ayah tak pernah meminta bunda menyiapkan tehnya di pagi hari. Hanya ketika bunda sempat akan bunda tanya apa ayah mau minum hangat. Karena setiap hari agenda kita begitu padat. Walaupun sudah sepagi apapun bunda dan ayah bangun tetap saja seperti mengejar waktu. Bahkan sarapan pagipun kini tak sempat lagi. Kadang menyiapkan bento sendiri harus dilakukan sambil berlari. Kunikmati itu semua.

Betapa kusyukuri memilikinya. Karena kesabaran ayah menghadapi bunda, menghadapi Rayhan. Kadang kalau bunda masak pagi2, terlihat ayah terkantuk2 menjaga Rayhan yang kadang sudah terbangun. Atau ayah harus terbangun tengah malam nemenin Rayhan saat bunda kelelahan. Atau saat harus menjaga Rayhan di saat bunda harus lembur di lab.
Ayah sayang, semoga Allah selalu menjagamu. Semoga Allah selalu memberkahi kita dalam membesarkan Rayhan. Memudahkan langkah2 kita dalam menyelesaikan amanah studi kita disini. Faidza azamta fatawakkal alallah...



10 Tanda degradasi ruhiyah

Anda seorang aktifis dakwah? Waspadailah jika salah satu dari sepuluh hal berikut menimpa Anda, karena ia mengindikasikan terjadinya degradasi ruhiyah.


1. Dusta
Rasulullah pernah mengingatkan bahwa seorang mukmin tak mungkin menjadi pembohong. Jika aktifis dakwah mulai berani berbohong, saat itulah indikasi degradasi ruhiyah terjadi.


Kadang kebohongan terjadi pada saat seseorang terjepit atau ingin mengais keuntungan tertentu. Misalnya untuk mendapatkan “pembenaran” atas ketidaksertaannya dalam aktifitas dakwah yang berat, yang sebenarnya ia tak memiliki alasan untuk meninggalkannya kecuali sikap malas. Di zaman Rasulullah, ini pernah terjadi pada perang Tabuk. Di mana kaum munafikin yang tidak ikut berangkat perang membohongi Rasulullah dengan berbagai alasan saat beliau kembali di Madinah; agar keabsenannya dimaklumi dan dimaafkan.


Kebohongan juga bisa terjadi pada saat munculnya momentum yang memberikan peluang keuntungan besar melalui kebohongan. Yang jika ia jujur, menurut pertimbangannya, peluang itu akan lewat begitu saja. Ingatlah, bahwa tujuan yang baik harus dicapai dengan cara yang baik.


2. Tak memenuhi janji
Berhati-hatilah jika Anda tidak memenuhi janji untuk menjalankan kewajiban dakwah yang telah Anda sepakati. Atau Anda mulai “toleran” dengan keterlambatan menghadiri forum-forum dakwah pekanan dan sebagainya. Kita patut waspada bahwa itu merupakan ingkar janji yang termasuk tanda-tanda kemunafikan, di mana saat itu terjadi degradasi ruhiyah dan keimanan.


“Ada tiga tanda kemunafikan,” sabda Rasulullah dalam riwayat Al Bukhari, “yaitu bila bicara ia dusta, bila berjanji ia ingkar, dan bila diberi amanah ia berkhianat.”


3. Mengkhianati amanah
Tiga hal pertama, termasuk mengkhianati amanah ini juga merupakan tanda kemunafikan seperti disebutkan dalam terjemah hadits di atas. Sekecil apapun amanah yang diembankan kepada Anda, termasuk amanah kepanitiaan, amanah di wajihah, amanah di struktur dakwah; pada saat Anda menyia-nyiakannya, tidak mau menunaikannya, itu merupakan indikasi degradasi ruhiyah. Perlu sebuah introspeksi mengapa kita tak mau menunaikan amanah yang sudah kita terima; apakah kita menerima amanah karena Allah, atau karena mengincar tujuan duniawi? Jika karena Allah, bangkitlah! Jangan biarkan degradasi ruhiyah berkelanjutan dan menggerogoti keimanan.


4. Takut berjuang dan berdakwah
Ini juga tanda degradasi ruhiyah. Jika Anda tak lagi berani bergerak, berharakah, berjuang mendakwahkan Islam; ketahuilah bahwa saat itu sedang terjadi degradasi ruhiyah. Kembalilah kepada keyakinan yang benar bahwa rezeki ditentukan Allah dan masa depan dalam genggaman Allah.


Mengapa takut lingkungan membenci Anda jika Anda sedang bergerak meraih ridha Allah dan cinta-Nya? Perusahaan mungkin bisa memecat Anda karena aktif berdakwah, tetapi ia takkan melakukannya selama Anda tetap profesional dalam bekerja. Lebih dari itu, tak seorang pun bisa menghalangi Anda dari rezeki yang lebih besar yang sudah Allah siapkan.


“Barangsiapa yang tidak berjihad dan tidak meniatkan dalam hatinya untuk melakukannya, ia membawa satu cabang kemunafikan pada kematiannya.” (HR. Muslim)


5. Su’udhan (Buruk Sangka)
Di saat Anda berprasangka buruk terhadap sesama aktifis dakwah yang berubah menjadi kaya, khawatirlah bahwa degradasi ruhiyah sedang melanda. Aktifis dakwah yang menjadi kaya setelah mendapatkan jabatan publik memang menimbulkan godaan untuk berburuk sangka. Tapi itulah cara syetan menyerang, padahal kita tak pernah tahu bahwa pada saat yang sama usaha atau bisnis aktifis dakwah itu berhasil setelah bertahun-tahun sebelumnya ia rintis dan ia kembangkan.


Kadang buruk sangka juga menjadikan qiyadah dakwah sebagai sasarannya. Bahkan pada kisah haditsul ifki kita bisa mengambil ibrah betapa pemimpin terbaik seperti Rasulullah pun, keluarganya pernah menjadi sasaran buruk sangka sebagian orang.


“Hindarilah oleh kalian prasangka,” sabda Rasulullah dalam riwayat Muslim, “karena itu seburuk-buruknya perkataan.”


6. Ghibah
Tanda degradasi ruhiyah berikutnya adalah ghibah. Yakni ketika seorang aktifis dakwah membincangkan hal-hal yang tak disukai seadainya didengar oleh orang yang dibincangkan. Ghibah juga menjadi tanda memudarnya ukhuwah sehingga ketika ada kelemahan, kekurangan atau kesalahan aktifis dakwah, yang bersangkutan tidak diingatkan dan dikoreksi, malah aibnya disebarkan.


“Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al Hujurat : 12)


7. Hasad (dengki)
Hasad kepada sesama aktifis dakwah umumnya sulit ditemui pada fase awal atau perintisan dakwah. Di masa-masa sulit seperti itu, ketika semua aktifis dakwah berjuang “mati-matian” dalam kesulitan, hasad adalah penyakit hati yang sangat langka.


Namun, seiring dengan kemajuan dakwah, terbukanya kesempatan, dan teraksesnya kekuasaan, hasad bisa menjadi ancaman. Nah, aktifis dakwah yang tidak suka dengan kemajuan saudaranya, kesuksesannya, jabatannya, kekuasaannya, lalu berupaya menghilangkan nikmat itu; itulah hasad yang menjadi tanda degradasi ruhiyah. Bahkan saat ketidaksukaan muncul saja, hanya karena alasan dunia –mengapa dia dan bukan saya- itu saja sudah sangat mengkhawatirkan bahwa keruntuhan ruhiyah kita sedang berjalan.


8. Sering lalai dan mencari-cari alasan
Lalai terhadap komitmen amal ibadah yaumiyahnya, lalai terhadap amanahnya, lalai syura dakwahnya, lalai agenda pekanannya, lalu berupaya mencari alasan pembenar agar bisa disebut udzur adalah bagian dari tanda degradasi ruhiyah. Demikian pula saat aktifis dakwah mencari-cari celah atau menabrak hal-hal makruh dan syubhat sehingga akhirnya terjerembab dalam dosa dan pelanggaran.


“Seorang hamba takkan mencapai derajat ketaqwaan, sehingga ia meninggalkan perkara mubah baginya karena khawatir terjerumus masalah yang mengandung dosa.” (HR. Tirmidzi)


9. Suka popularitas, tak semangat dalam amal rahasia
Di saat mihwar dakwah telah sampai pada mihwar muasasi, gerbang amal amah terbuka gegap gempita. Banyak peluang popularitas di sana, banyak kemasyhuran menanti pelakunya. Jika pada saat seperti ini agenda dakwah khas dinomorduakan, tak ada gairah dan semangat menempuhnya, ketahuilah bahwa itu bagian dari riya’ yang menunjukkan degradasi ruhiyah kita.


10. Menjauhi syura
Jika Anda tak lagi menyukai syura, ingin menghasilkan keputusan dakwah sendiri, ingin mengambil kebijakan sendiri, sangat boleh jadi saat itu ruhiyah sedang melemah. Sebab ia hanya bermuara pada dua hal; pertama, menganggap orang lain dan jamaah dakwah tidak lebih baik dan lebih pintar dari Anda. Artinya ujub dan takabur tengah menjangkiti. Kedua, timbul keinginan untuk “berkuasa” diantaranya dengan bebas menentukan segalanya, termasuk menentukan arah dakwah demi kepentingan pribadi.


Syura adalah prinsip dalam amal jamai dan harus selalu ditegakkan dalam semua marhalah yang dilalui. “..sedang urusan mereka (diputuskan) dengan syura diantara mereka...” (QS. Asy Syura : 38). [AM09]

Sumber http://www.bersamadakwah.com/2012/03/10-tanda-degradasi-ruhiyah-aktifis.html

Wednesday, April 4, 2012

When my mom came

Last year, after I gave birth to Rayhan. Two weeks after that my mom come from Indonesia. Since Rayhan is still very young, I couldn't go anywhere. My mom stayed for 2 months in here. After 1.5 months before my mom came back to Indonesia, we visited Kobe tower. Together with my brother in law who came to pick up my mother. In that time, summer season so it doesn't matter for Rayhan.



Ayah not so fat in that time. I think he should do diet. But how can, since I always cook for him he he....:D

Black forest


This is my biggest blackforest that I ever made. I made it for the farewell party of Supanji’s family, also for the child who has birthday in that time. This is from 1 recipe blackforest, but I divided into 2 baking pan (size 18 cm). I covered with whipped cream and cheese. There are Indonesian flag and NAIST’s logo in there. I really excited when I made it. Everyone like it especially the children. Here the picture…



Rayhan GTM lagi??

Hmm...Rayhan Rayhan bunda akhir2 ini bingung masak untuk anak bunda ini. Makannya sedikit dan maunya roti. Tapi setidaknya dia mau makan sih. Ga GTM2 banget. Nah mau tau tentang GTM simak infonya dari link ini.

Gerakan Tutup Mulut nggak cuman dilakukan demonstran yang mencoba menuntut sesuatu. Tapi juga oleh bayi-balita usia 9 Bulan – 3 Tahun dengan alasan yang kurang lebih sama. Menginginkan sesuatu, menuntut sesuatu, merasakan sesuatu yang ingin mereka ungkapkan pada kita – Orang tuanya.
Tema ini seriiiiiiiing sekali mondar-mandir di milis MPASI Rumahan, hampir setiap minggu passssti ada pembahasan soal GTM pada bayi yang baru belajar makan sampai pada balita-nya yang tiba-tiba emoh buka mulut untuk makan. Kalo hal ini berlangsung lama, tombol panik mulai menyala.
Soal makan ini ternyata gampang-gampang susah dan susah-susah gampang. Jadi di HUT 3 Milis MPASI Rumahan& Mamaku Koki Handal, kami sepakat untuk menghadirkan tema GTM serta pembahasannya dari sisi klinis oleh momod paling ganteng *soalnya satu-satunya laki-laki* di Milis MPASI Rumahan – dr Yossi Arioseno- dan pembahasan dari sisi psikologis dibawakan dengan riang gembira oleh mbak Alzena Masykouri, MPsi.
Stress? Pasti lah.. wong anak ga mau makan, gimana kalo nanti sakit? Gimana kalo nanti berat badannya turun? Wah dimarahin dokter nih, dikatain jadi ibu ngak becus deh.. aduh.. aduh.. aduh… Lalu bikin status di FB, Twitter “hik hik… anakku GTM. Nggak mau makan… gimana ini?”
Hehhe… daripada nulis status nggak penting, lebih baik baca terus artikel ini :-D
APA SIH GTM?
Menurut mbak Alzena Masykouri, MPsi – GTM adalah suatu istilah yang diberikan pada perilaku anak, biasanya berusia di bawah 3 tahun, yang menolak untuk makan. Kenapa kebanyakan berusia di bawah 3 tahun, karena anak-anak usia 3 tahun ke atas biasanya sudah terampil untuk menyampaikan keinginannya secara lisan. Dengan mengutarakan perasaan atau keinginannya secara lisan, tentunya lebih mudah bagi orang lain (baca : orang tua dan pengasuh) untuk memahami keinginannya. Sedangkan, pada anak usia batita (bawah tiga tahun), kemampuan verbal yang masih terbatas menghalanginya untuk dapat menyampaikan keinginannya secara lisan. Akibatnya, mereka memilih untuk menunjukkan perasaan dan keinginannya dengan perilakunya. Tentu kita masih ingat dengan ‘temper tantrum’? Nah, GTM dan ‘temper tantrum’ adalah bentuk perilaku anak untuk menunjukkan keinginannya. GTM biasanya terjadi di masa-masa bayi melakukan pengendalian terhadap apa yang dia inginkan dari orang lain. Berbeda dengan bayi-bayi yang sedang dalam masa eksplorasi dimana semuaaaaaa benda dimasukkan ke mulut.
PEGANG TEGUH PRINSIP INI
Pertama, yang kita harus camkan adalah: Makan bukan hanya merupakan kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan sosial. Belajar makan adalah pembelajaran hidup terstruktur pertama bagi bayi. Jadi landasannya harussss kuat untuk membuat habit makan yang baik. Maksudnya apa sih pembelajaran hidup terstruktur itu?
Dalam proses belajar makan, anak diajarkan untuk selalu makan pada waktu tertentu, dengan posisi duduk (karena itu syarat mulai MP adalah setelah anak bisa duduk menopang kepala dengan tegak), di tempat makan (meja, highchair), membuka mulut, memasukkan makanan, mengunyah, menelan. Kedengarannya mudah, tapi sebetulnya nggak sesimpel itu. Kebiasaan baik saat makan juga perlu diajarkan seperti tertib saat makan, makan nggak boleh sambil disambi nonton TV, bermain dll. Duhhh.. pasti banyak yang udah jleb-jleb-jleb ya? hahah… tenaaang…
Kedua: Beri Contoh. Makan bersama-sama keluarga adalah pembelajaran makan yang sangat baik, karena anak akan mencontoh apa yang orang dewasa lakukan. Bercerita tentang makanan apa yang dimakan pada juga merupakan hal yang baik. Ajarkan bahwa makan adalah kebutuhan, bukan kewajiban. Jadi biarkan anak merasakan dan mengerti konsep “Lapar”, artinya jangan membuat porsi makanan yang fantastis. Lebih baik belikan sedikit tapi kalau kurang ditambah daripada membuat porsi besar tapi anak nggak bisa habiskan yang akibatnya bikin kita stress karena menganggap anak makannya nggak banyak dan bikin anak rewel karena dipaksa makan padahal sudah kenyang. Makan bukan kejar setoran :D
Jadi.. apa dong langkah selanjutnya?
TENANG DAN LOGIS
Gimana bisa tenaaaaang!!!!???????
Tenaaang, jangan esmosi dulu. Terus baca artikel ini. Kita harus memberi pemahaman terus menerus pada anak kita tentang konsep “lapar” itu. Biasanya, untuk anak yang lebih besar terkadang mereka nggak mau makan makanan padat. Tapi kalau lapar mereka akan minta susu yang rasanya lebih enak dan tinggal “glek”. Disinilah diperlukan pembelajaran pada anak (dan konsistensi orang tua) untuk memberi pemahaman pada anak bahwa yang mereka rasakan adalah “lapar” dan harus “makan”. Bukan hanya minum susu. Memang sih pasti bikin emosi jiwa tak terhingga “menyadarkan” anak soal ini. Tapi… sudahkan Mama mengajarkan hal-hal esensial, tahukah Mama bahwa multitasking pada bayi adalah hal yang seharusnya tidak dilakukan? Maksudnya, bayi makan sambil nonton TV, jalan-jalan, bermain, berlari-lari.
Penting untuk mengajarkan pada anak untuk selalu berkonsentrasi pada kegiatan makan yang dia lakukan. Batasi waktu makan tidak lebih dari 30 menit, makan sesuai apa yang ada dan jangan pernah memberikan “suap” berupa makanan lain yang lebih disukai anak. Misal : “Kalo udah habis, nanti Mama kasih cokelat ya”. Susah? tentunyaaa… apalagi kalo yang sudah terlanjur punya kebiasaan makan yang salah. Tapi, konsistensi kita sebagai orangtua /pengasuh yang harus ditega-tegain :D . Yang pengen punya anak kita juga kan, Ma..Pa…?
Lalu, jangan langsung panik kalau anak GTM. GTM terjadi karena 2 sebab utama: Sebab organik dan anorganik.
Sebab Organik merupakan sebab yang berhubungan langsung dnegan organ makan anak, misalnya mulut sariawan, gusi pedih karena mau tumbuh gigi, radang , dll. Sedangkan sebab anorganik meliputi keadaan psikologis anak, suasana hati anak dan pengasuh, suasana lingkungan, dll. Cek dulu, siapa tahu anaknya memang lagi sariawan atau tumbuh gigi lalu sesuaikan jenis makanan yang bisa menyamankan namun memenuhi kecukupan gizi-nya.
Itulah mengapa jurnal makanan menjadi hal yang penting. Nggak perlu mendetail sih, yang penting kita punya sebuah buku yang berisi tentang catatan harian makanan apa yang dimakan, dimasak apa, dan bagaimana reaksinya. Lalu, saat makan usahakan selalu berkomunikasi dan selalu senyum sebelum memulai makan. Jadikan acara makan menjadi waktu yang menyenangkan bagi anak dan pengasuh. Nggak bisa memungkiri sih, kita kadang (atau seringkali?) nggak sabar menunggu anak membuka mulut untuk makan sementara kita perlu kerja ini-itu. Kalau nggak habis kok buang-buang makanan. Nunggu habis lama. Nggak dihabiskan takut kelaparan … dilemanyaaaa….
dr. Yossi Arioseno mengatakan, janganlah kita terpaku menghitung asupan pada hari itu saja, tapi kita lihat saja asupan kecukupan gizi selama seminggu. Lalu dari segi klinis, dr Yossi mengatakan bahwa jangan menilai anak kurus, kurang gizi, malnutrisi, hanya dari penampakan luarnya saja. Selalu cek paling tidak di KMS atau growth-chart. Kalau terjadi hal yang serius bisa hubungi tenaga profesional seperti dokter anak ataupun ahli gizi.
Dari seminar ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi anak GTM:
1. Temukan sebabnya.
Apakah karena sebab organik atau anorganik. Kalau sebabnya organik (sariawan, radang tenggorokan) segera atasi dan buatlah makanan-makanan yang tidak mengiritasi sariawan atau radang-nya. Kalau sebabnya anorganik memang lebih susah mengatasinya. Tapi susah bukan berarti nggak bisa lho!
Kalau anak jadi susah makan karena ayahnya pergi, atau ganti pengasuh, berikan pengertian pada anak. Ajak anak ngobrol bahwa kita tahu perasaannya yang sedang sedih, rindu, tapi harus tetap makan supaya tetap sehat. Hiburlah anak, ajak bicara, walau mungkin Mama dan Papa menganggap bayi tidak mengerti apa yang kita bicarakan tapi percaya deh.. mereka paham lho. Dan seperti manusia yang sudah besar, mereka juga ingin dipahami. Kalau memang sudah berkelanjutan masalahnya, bawa ke psikolog untuk dianalisa apa sebetulnya yang membuat anak jadi tidak mau makan sama sekali.
2. Less Is More
Beri makan anak dalam porsi sedikit-sedikit tapi sering lebih membuat Mama-Papa-Pengasuh-Anak tidak stress daripada kekeuh memberikan makan 3 kali sehari dalam porsi “normal” dan tidak habis.
3. Susu bukan pengganti makanan!
Kadang kita tergoda, kalau anak nggak mau makan lalu kita ganti dengan susu. Ingat lho, susu bukan pengganti makanan padat. Susu adalah penyeimbang kebutuhan gizi, jadi tetap ajarkan anak untuk makan jika lapar. Bukan minum susu untuk membuatnya kenyang. Berikan pengertian bahwa kalau lapar, kamu harus makan.
Misalnya nih, anak minta susu padahal belum makan. Kita sebaiknya berkata “Dek, itu namanya lapar. Kalau lapar kita harus makan dulu ya..bukan minum susu. Yuk makan bersama”
Biasakan untuk memberikan susu dengan komposisi gizi yang lengkap setelah anak selesai makan makanan padat sebagai pelengkap dan penyeimbang bukan pengganti makanan padat :-)
4. Waktu makan = Waktu menyenangkan
Mulai dengan SENYUM, ditambah sabar dan tenang. Bercerita tentang makanan seperti: “Dek, ini namanya bayam… bayam itu warnanya hijau dan sehat sekali karena membuat kita kuat…” atau “Dek, ikan ini hidupnya di laut lho..laut itu punya kandungan gizi yang bagus supaya adek tetap sehat dan bisa main sama Mama”
Kedengerannya lebay ya… tapi perrrrrrcaya deh Ma, Pa… kalau kita santai dan tenang, anak pun merasa tenang makan bersama kita. Walau begitu tetap tegakkan aturan bahwa pada saat makan nggak boleh disambi *duh apa ya bahasanya* sambil nonton tv, mewarnai, mengalihkan perhatian, bahkan jalan-jalan. Ingat bahwa membatasi waktu makan juga sama pentingnya dengan aturan makan yang pertama tadi.
5. Berikan pilihan
Ini berlaku untuk anak yang sudah mampu bicara dan mengungkapkan preferensinya. Berikan anak kesempatan untuk memilih apa yang mau ia makan tapi kita tetap sebagi pemegang kontrol,  jangan berikan pilihan terbuka. Ini contohnya:
katakan “Adek mau makan sayur bening sama ayam goreng ATAU opor ayam dan buncis rebus?”
jangan katakan “Adek mau makan apa?”
Anak akan memilih makanan yang dia sukai, dan akan cenderung yang itu-itu lagi. Kalau sudah begitu yang ada kita berantem deh sama anak :D
Ini juga melatih anak untuk berani mengemukakan keinginan serta bernegosiasi.
Yang perlu diingat, setiap anak itu unik. Penanganan sebuah masalah pada satu anak mungkin tidak berlaku pada anak lain. Seru dan menantang ya jadi orang tua. Semoga sekelumit artikel ini bisa sedikit melegakan Mama dan Papa kece yang sedang dilanda GTM anak :D no need to worry. Tetap tenang dan logis, badai GTM akan segera berlalu.

Tuesday, April 3, 2012

Ayam goreng pedas

Menu kesekian kali dari ayam. Sampe bosen ngolah ayam boneless. Habis yang tersedia dan paling murah ya boneless ini (ga juga ding). Sebenernya cuma pengen digoreng dan dibalado. Tapi Sendy (pemesan katering setia) lagi gak bisa makan pedas. Dan kalo boneless digoreng gitu aja jadinya keras. So ayamnya dipotong dadu dan dilumuris sagu baru digoreng. Sausnya yang asal campur aja.
Tapi begini kira2 resepnya...

Bahan:
ayam boneless potong dadu
sagu/katakuriko
Putih telur (kalo gak ada usus cair/air juga gpp)
maizena/corn starch

Saus:
Bawang bombay
Bawang putih
Sambal jadi (stok yang ada)
saus tomat
saus sambal pedas thailand
garam dan lada
air
larutan sagu/maizena (untuk mengentalkan)

Caranya: Ayam diberi garam dan lada, aduk rata. Masukkan kocokan putih telur. Baru dimasukkan ke campuran tepung (bisa dikasih lada dan garam sedikit campuran tepungnya). Goreng dalam minyak banyak.
Sausnya: Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum. Masukkan semua bumbu dan air. Aduk sampai rata dan terakhir kentalkan dengan larutan maizena. Masukkan ayam dan aduk rata.
Voila, jadi deh....


Kata Sendy, ayamnya enak. Crispynya pas, layak disimpan resepnya. Yo wis disimpan baik2, since she is a picky eater. Kritikus masakan kelas wahid...

Monday, April 2, 2012

Is it nursing strike???


I don’t know what happen with him. Is it nursing strike?? It’s happen when the baby refused to have breastfeeding with his own mom. I just feel so sad when he cried without stopping while I tried to give him breastfeeding. But when his father holded him, he suddenly stop crying. I just can go back to lab with confusing feel and feel so sad. 

Bento #5 Nasi Lemak

Hari ini bento Nasi lemak. Begitu menu ditawarkan banyak deh yang berminat terutama temen Malaysia. Sebenernya jadi lebih simpel dibandingkan isian nasi uduk. Untuk nasi lemak ini ditemani kacang goreng, teri goreng, telur rebus, sambal terasi dan timun.



April come

Bulan April kembali lagi. Bulan baru mudah2an penuh berkah. Memulai kehidupan seorang mahasiswa tanpa beasiswa. Change the status from RA to TA. Mudah2an tanpa tekanan bisa lebih nyantai, tapi pasti melangkah dengan penuh optimisme.
Bunda ganbatte.....